Meletusnya gunung Lokon di Sulawesi Utara menandakan bahwa gugusan kepulauan ring of fire masih sangat aktif perilaku geodinamikanya. Sulawesi memiliki 14 dari total 130 gunung api di Indonesia. Sulawesi Utara mendominasi 13 Gunung sedangkan Sulawesi Tengah hanya memiliki satu Gunung yaitu Gunung Colo di perairan Teluk Tomini Pulau Una-Una.
Aktifitas Gunung Colo memiliki kaitan dengan proses tektonik pada wilayah minahasa Halmahera, Lempeng Fasifik dan Lempeng Laut Filipina menunjam masuk ke bawah busur-busur kepulauan Filipina. Akibatnya terbentuk aliran magma dari dapur magma untuk bergerak ke kerak bumi dan membentuk barisan gunung api.
Kawasan Filipina, Minahasa dan Halmahera adalah kawasan dengan frekuensi gempa yang sangat tinggi, sepuluh kali melebihi frekuensi gempa di Pulau Jawa. Gempa ini akan meningkatkan kekentalan dan mobilitas magma di bawah lapisan kerak bumi dan ketika ada tekanan yang besar akan merambat ke permukaan bumi dan menyebabkan erupsi gunung Api.
Gunung Colo yang terletak pada 0°10' Lintang Selatan dan 121 °36.5' Bujur Timur. Dalam bahasa daerah suku Bugis, Colo berarti korek api. Menurut pengamatan, keberadaan Gunung Colo yang memiliki ketinggian 238 mdpl, agak menyimpang dari rangkaian jalur Gunung Api di Indonesia. Pada awal 1900 terjadi letusan dan meninggalkan sumbet lava yang kemudian di kenal sebagai Gunung Colo.
Pada 23 Juli 1983, setelah berdiam selama 83 tahun, Gunung Colo Meletus. Letusan dahsyat itu menghancurkan sumbat lava. Awan panas membumihanguskan 2/3 Pulau Una-una. Abu setebal 1 cm menghujani kota Palu yang berjarak 180 km sebelah barat daya. Abu juga menyebar hingga 300 km ke selatan menerpa Sulawesi Selatan.
Badan Meteorologi dan Geofisika stasiun Winangun, Manado mengatakan bahwa, gempa terkuat terjadi pada 24 Agustus, pukul 00.46.43 wita, berkekuatan 4,6 SR pada kedalaman 30 km. Daerah di Pulau Una-Una yang paling parah mengalami kerusakan adalah sebelah barat. Banyak rumah penduduk yang rusak serta di temukan tanah retak di Kampung Kololio. Selain itu, sepanjang tebing Sungai Pemantingan terjadi tanah longsor.
Gempa bumi tektonik kembali mengoncang Pulau Una-Una pada awal Juli 1983 yang berkekuataan III pada skala MMI. Gempa tersebut semakin hari kian bertambah jumlah dan intensitasnya. Pada 4 Juli terasa 10 kejadian dan meningkat 40 kejadian pada 14 Juli. Tanggal 18 Juli untuk pertama kalinya terlihat kepulan asap putih di atas Colo. Jumlah gempa semakin meningkat. Bau belerang menyengat keseluruh penjuru pulau. Penduduk sebanyak 7000 jiwa segera diungsikan dengan kapal motor secara bergelombang ke Pulau Togean 40 km dari Pulau Una-una dan Ampana yang terletak di daratan Sulawesi. Ibukota kecamatan Pulau Una-una dipindahkan ke Wakai di Pulau Batudaka.
Pada 23 Juli 1983 pukul 16.23 Wita, gunung api yang diam selama 83 tahun meletus. Awan cendawan berwarna kuning berukuran raksasa memayungi Pulau Una-una. Asap letusan dalam sekejap telah mencapai 5 km. Awan panas atau pyroclastic flow tipe soufriere memusnahkan 2/3 pulau dari rerumputan hingga cengeh dan kelapa dalam waktu singkat. Pemukiman dan sarana perkantoran rubuh, sebagian diantaranya rata dengan tanah diterjang lahar. Abu letusan mencapai daerah Kalimantan bagian timur.
Letusan mulai mereda pada oktober 1983 setelah aktif selama 6 bulan dan berhenti dengan sempurna serta dinyatakan kegiatan Gunung colo sudah normal. Dari seismisitas diketahui bahwa antara Februari hingga Maret 1984 masih terjadi letusan-letusan asap secara sporadis dari dalam kawah. Dalam penyelidikan terpadu tersebut pula diketahui, bahwa sumba lava sudah habis dilontarkan dan menyisakan 3 (tiga) kawah dengan ukuran yang berbeda-beda. Kawah tertua berdiameter ± 2000 m, Kawah kedua merupakan kawah muda berbentuk bulat dengan diameter tidak lebih dari 300 m yang muncul di sebelah timurlaut Kawah pertama. Kawah ketiga merupakan kawah termuda hasil letusan eksplosif tahun 1983, diameter kawah ± 200 m.
Diketahui kemudian, Pulau Una-una dimana Gunung api Colo berada merupakan pulau gunung api yang terbentuk sebagai hasil letusan gunung api. Hingga saat ini gunung colo menunjukan masih tetap aktif dan normal. Gunung Colo yang dipicu aktivitas tektonik disekitarnya dengan besaran seperti pada tahun 1983.
Rekomendasi dari ahli vulkanologi menyebutkan bahwa posisi geografis pulau gunungapi (Pulau Una-Una) yang letaknya terpencil dan yang sewaktu - waktu dapat meletus kembali akan menimbulkan berbagai kendala dalam upaya evakuasi penduduk. Berbagai sarana pemukiman, aktivitas penduduk memiliki risiko tinggi terlanda bencana letusan gunung Colo. Walaupun menyadari bahaya yang mengintai, setelah tiga sejak letusan, berangsur-angsur penduduk kembali ke Pulau Una-una membangun kembali kehidupan. Menanami kebun dengan kelapa dan cengkeh. Tak jarang penduduk mendapatkan rusa untuk dimakan bersama-sama. Diperkirakan rusa di Pulau Una-una telah berkembangbiak hingga puluhan kali lipat dibandingkan sebelum letusan.
Rekomendasi dari ahli vulkanologi menyebutkan bahwa posisi geografis pulau gunungapi (Pulau Una-Una) yang letaknya terpencil dan yang sewaktu - waktu dapat meletus kembali akan menimbulkan berbagai kendala dalam upaya evakuasi penduduk. Berbagai sarana pemukiman, aktivitas penduduk memiliki risiko tinggi terlanda bencana letusan gunung Colo. Walaupun menyadari bahaya yang mengintai, setelah tiga sejak letusan, berangsur-angsur penduduk kembali ke Pulau Una-una membangun kembali kehidupan. Menanami kebun dengan kelapa dan cengkeh. Tak jarang penduduk mendapatkan rusa untuk dimakan bersama-sama. Diperkirakan rusa di Pulau Una-una telah berkembangbiak hingga puluhan kali lipat dibandingkan sebelum letusan.
Saat ini telah banyak penduduk mulai menetap kembali. Sebelumnya mereka hanya datang sesekali dalam setahun ke Pulau Una-una untuk panen atau menanam tanaman jangka panjang. Selain dikenal karena kesuburan tanahnya, pulau Una-una juga memiliki kekayaan alam bawah laut yang sering dijadikan daerah tujuan wisata selam.
1.1 Variabel Karakteristik bahaya Gunung Api (Total 12/5=2,4)
1.1.1 Frekuensi (Nilai 3)
Gunung Colo sudah beberapa kali meletus namun memiliki tenggang waktu yang cukup lama, letusan Gunung Colo ini bersifat tidak menentu sehingga dapat saja terjadi secara tidak terduga. Aktifitas Gunung Colo yang berada di daerah kepulauan sulit untuk dipantau secara langsung oleh petugas. Namun kesiapsiagaan dapat ditingkatkan apabila Gunung Api di Halmahera dan Sulawesi Utara meningkat.
1.1.2 Intensitas (nilai 2)
Badan Meteorologi dan Geofisika stasiun Winangun, Manado mengatakan bahwa, gempa terkuat terjadi pada 24 Agustus, pukul 00.46.43 wita, berkekuatan 4,6 SR pada kedalaman 30 km. Asap letusan dalam sekejap telah mencapai 5 km. Awan panas atau pyroclastic flow tipe soufriere memusnahkan 2/3 pulau dari rerumputan hingga cengkeh dan kelapa dalam waktu singkat. Pemukiman dan sarana perkantoran rubuh, sebagian diantaranya rata dengan tanah diterjang lahar. Abu letusan mencapai daerah Kalimantan bagian timur.
Intensitas dan jangkauan lahar masih dapat dinilai sebagai gempa tektonik sedang namun tetap berpotensi meningkat seiring meningkatnya aktifitas Gunung Api lainnya. Gempa ini berpotensi juga menimbulkan bencana lainnya yaitu Gempa Tektonik dan Gelombang pasang (Tsunami).
1.1.3 Dampak (Nilai 2).
Hingga saat ini gunung colo masih tetap aktif namun aktifitas Gunung ini masih tergolong normal, pemerintah belum mengeluarkan izin kepada penduduk yang mengungsi kembali ke Pulau Una-Una. Walaupun ada yang kembali, hanya sebagian kecil penduduk sehingga evakuasi dapat dilaksanakan secara cepat. Belum ada pembangunan fasilitas pemerintah di Pulau Una-Una sehingga jika terjadi bencana, korban baik jiwa maupun materi tidak terlalu besar.
1.1.4 Keluasan (2)
Letusan Gunung Api sebelumnya menghancurkan 2/3 Pulau Una-Una. Namun dibanding dengan letusan gunung api di daerah lain, letusan ini masih tergolong kecil apalai letaknya berada di perairan laut Teluk Tomini. Jangkauan abu vulkanik yang mematikan menerpa lautan sehingga walaupun luas namun tidak menjangkau daerah padat penduduk. Abu vulkanik dapat saja mencapai daerah Sulawesi Selatan dan Balikpapan namun tidak mengancam keselamatan jiwa secara langsung.
1.1.5 Tenggang waktu. (nilai 3)
Rekomendasi dari ahli vulkanologi menyebutkan bahwa posisi geografis pulau gunungapi (Pulau Una-Una) yang letaknya terpencil dan yang sewaktu - waktu dapat meletus kembali akan menimbulkan berbagai kendala dalam upaya evakuasi penduduk. Letak yang jauh dari pusat pemerintahan serta jalur sarana komunikasi belum ada menyebabkan penyampaian tentang aktifitas gunung api tidak berjalan dengan baik. Pemantauan juga susah dilaksanakan karena jalur transportasi yang tidak tersedia.
1.2 Variabel Kerawanan
1.2.1 Fisik (nilai 2)
Secara fisik kerawanan yang ditimbulkan oleh bencana meletusnya Gunung Colo secara langsung tidak terlalu besar. Pemerintah belum membangun kembali Pulau Una-Una, bahkan belum ada izin untuk kembali bermukim di lokasi tersebut sejak meletus tahun 1983. Walaupun demikian ada beberapa penduduk yang kembali bermukim tetapi sebagian besar hanya mengunjungi pulau una-una pada saat panen perkebunan jangka panjanng milik mereka. Sehingga walaupun jalur komunikasi belum ada serta jalur transportasi juga sangat jarang tetap tidak memberukan dampak yang besar.
1.2.2 Sosial (2)
Kerawanan yang ditimbulkan Secara sosial tidak besar. Namun dapat saja terjadi kejaadian luarbiasa akibat ISPA oleh paparan abu fulkanik terhadap Balita dan masyarakat yang rawan terutama di daerak Ampana sebagai Ibu Kota kabupaten karena masih berada di dalam jangkauan abu vulkanik.
1.2.3 Ekonomi (Nilai 2)
Secara Ekonomi juga tidak berdampak secara langsung.
1.3 Variabel Manajemen
1.3.1 Kebijakan (1)
Berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Tojo Una Una nomor 7 tahun 2010, dibentuk sebuah organisasi dan tata kerja badan penanggulangan bencana daerah. Peraturan ini sudah dibakukan dan petugas telah melewati berbagai pelatihan tanggap bencana baik skala propinsi maupun skala Nasional.
1.3.2 Kesiapsiagaan (2)
Kesiapsiagaan secara lokal kabupaten belum ada namun BMG di indonesia akan segera memberikan informasi jika ada gempa tektonik akibat aktifitas gunung berapi.
Tanda-tanda gunung api akan sulit di deteksi dengan melihat gejala alam karena letak gunung yang berada di perairan kepulauan Una Una.
1.3.3 Peran serta Masyarakat dan LSM (2)
Peran serta masyarakat belum ada. Belum ada organisasi masyarakat yang tanggap bencana di kab. Tojo Una Una. LSM yang bergeak di bidang bencana juga belum ada. Namun PMI sudah ada di Tojo Una Una yang memiliki jaringan yang luas dan koordinasi yang sangat bagus dengan PMI di seluruh Indonesia.
Total Nilai untuk Bencana Gunung Api di Kab. Tojo Una-Una adalah
- Karakteristik Bahaya = 3+2+2+2+3= 12 12/5= 2,4
- Kerawanan = 2+2+2 = 6 6/3= 2
- Manajemen =1+2+2 =5 5/3=1,6
- Total = 2,4+2+1,6 = 6 6/3=2
Interpretasi :
Berdasarkan penilaian risiko bencana maka bencana gunung api di kab. Tojo Una Una berisiko secara sedang terhadap risiko bencana.