Kamis, 30 Mei 2013

Strategi Percepatan Tojo Una Una bebas Malaria

STRATEGI PERCEPATAN MENUJU “TOJO UNA UNA BEBAS MALARIA”
A.   Analisis Situasi Malaria
Pemerintah Indonesia bersama-sama dengan 89 negara lain pada tahun 2000 berkumpul untuk menghadiri pertemuan puncak millenium di New York dan menandatangani deklarasi millennium (MDGs) yang menyatakan bahwa martabat manusia seutuhnya hanya dapat dipenuhi jika manusia bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, serangan penyakit, sikap tidak toleran dan konflik.  Deklarasi ini dijabarkan dalan 8 tujuan sedangkan pemberantasan penyakit malaria tertuang dalam tujuan ke 6, mengendalikan HIV dan AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya.
Tojo Una Una merupakan daerah endemis malaria dimana angka kejadian malaria masih berada pada stratifikasi merah dengan status High Incidense Area, faktor alam/lingkungan seperti pergantian musim yang ekstrim, pembukaan lahan baru serta perilaku masyarakat mempunyai peran besar pada proses terjadinya penyakit malaria, selain itu Keterbatasan tenaga kesehatan terutama di tingkat Puskesmas, tidak dapat menjangkau semua penduduk diwilayah kerjanya mengakibatkan cakupan penemuan masih rendah dan sering terjadi KLB, belum dipahaminya tanda – tanda, cara pengobatan yang benar serta bahaya malaria oleh sebagian masyarakat berakibat pada rendahnya kepedulian masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya penanggulangan malaria. Dengan peningkatan surveilans dalam rangka deteksi dini dan pengobatan tepat diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria
Program Pengendalian Penyakit Malaria melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Tojo Una membuat suatu terobosan program yang dicanangkan pada tahun 2008 yaitu ”Tojo Una Una Bebas Penularan Malaria 2015”.  Program malaria merupakan program prioritas Dinas Kesehatan Kabupaten Tojo Una Una, dengan indikator kunci menurunkan angka kesakitan malaria klinis (AMI), dari 76 o/oo  penduduk pada tahun 2010  menjadi < 5 o/oo pada tahun 2015.  Menurunkan angka kesakitan malaria melalui hasil konfirmasi laboratorium (API) dari 10 o/₀₀ tahun 2010 menjadi <1 o/₀₀ tahun 2015. 
Hasil kegiatan P2 Malaria memberikan gambaran adanya kecenderungan peningkatan angka kesakitan malaria/ Annual Malaria Incidence/AMI dari tahun 2010 hingga 2011, namun mengalami penurunan di tahun 2012.  Kondisi awal tahun 2010 AMI 74 o/oo, dan API 10 o/oo, Puskesmas yang melaksanakan konfirmasi laboratorium, 13 Puskesmas dari 13 puskemas ( 100 % ) tahun 2010. Kasus klinis Malaria yang dikonfirmasi laboratorium dari kegiatan penemuan dan pengobatan penderita di Unit Pelayanan Kesehatan pada tahun 2010 adalah 37 % (2010 ). Sedangkan kasus positif dari hasil konfirmasi laboratorium sebanyak 1314 orang dari 3.761 orang kasus klinis atau 35 % (2010 ). Pada tahun 2010, dari 1314 kasus malaria positif, terdapat 926 kasus plasmodium Falcifarum, 364 plasmodium vivax dan mix sebanyak 24 kasus.
Dalam upaya mencapai visi ”Tojo Una Una Bebas Penularan Malaria 2015”, maka perlu ditunjang olah adanya sumber daya kesehatan yang profesional dan sarana, prasarana lainnya.  Pada kondisi tahun 2010 tenaga mikroskopis dan pengelola malaria terdapat satu orang pada tiap-tiap puskesmas, sedangkan tenaga dokter masih belum terdistribusi merata di seluruh puskesmas, puskesmas Lebiti, Puskesmas Pasokan, dan Puskesmas tombiano tidak memiliki tenaga dokter. Sedangkan keberadaan sarana kesehatan antara lain :
         Rumah Sakit                                                   1 Unit
         Puskesmas Perawatan                                  5 Unit
         Puskesmas Non Perawatan                                    8 Unit
         Puskesmas Pembantu                                           43 Unit
         Polindes / Poskesdes                                             46 Unit
         Posyandu                                                      172 Unit
         POD                                                               98 Unit
         Desa Siaga                                                   120 Unit
Dari laporan pengelola malaria hingga pertengahan tahun 2012, setelah dilaksanakan kegiatan dengan pembiayaan dari DAU dan GF, antara lain sebagai berikut : Kegiatan pemberantasan malaria yang dibiayai oleh dana APBD pada tahun 2012 berjumlah Rp. 32.195.000,- yang peruntukannya untuk kegiatan Penyemprotan Vektor Malaria, MBS (Mass Blood Survey), dan Pelatihan Kader Pos Malaria Desa sedangkan kegiatan yang dilaksanakan dengan biaya dari GF adalah
         Supervisi (6 Puskesmas) Pada P1 (Januri – Maret 2012) dan Supervisi (8 Puskesmas) Pada P II ( April – Juni 2012)
         Pembelian ATK Tingkat Kabupaten Pada P1 (Januri – Maret 2012) dan P II ( April –  Juni 2012)
         Salary and Wages Pada P1 (Januari – Maret 2012) dan P II ( April – Juni 2012)  
         Insentif Mikroskopis Puskesmas Pada P1 (Januri – Maret 2012) dan P II ( April –       Juni 2012)
         Pendistribusian kelambu Pada Ibu Hamil dan Balita Pada P II ( April – Juni 2012)
Hingga pertengahan 2012,  Penambahan sarana kesehatan penunjang pemberantasan malaria hanya pada desa siaga sebanyak  1 desa, sedangkan tidak ada penambahan tenaga mikroskopis maupun tenaga pengelola malaria di puskesmas maupun rumah sakit.  Distribusi tenaga ahli (dokter) belum merata pada tiap puskesmas.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tojo Una-Una adalah:
1.    Skrining (Mass Blood Survey)
Tujuan dari skrining ini adalah untuk mengurangi sumber penularan malaria didesa endemis tinggi yang merupakan lokasi sentinel ditiap kabupaten endemis tinggi dengan cara penemuan penderita positif secara massal dan memberikan pengobatan yang tepat. Target untuk kegiatan Skrining Massal adalah Minimal 80% penduduk desa terpilih diperiksa sediaan darah secara mikroskopis,  pelaksanaan skrining ini dilaksanakan di beberapa daerah endemis tinggi malaria.
2.    POSMALDES
Kegiatan posmaldes dengan tujuan dihasilkannya kader Pos Malaria Desa (POSMALDES) yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanggulangan malaria serta menghasilkan masyarakat yang mandiri dan berperan aktif dalamupaya penanggulangan dan pencegahan malaria.  

3.    Kampanye dan Pembagian kelambu berinsektisida
Dengan kampanye dan pembagian kelambu berinsektisida diharapkan terselenggaranya kampanye pemakaian kelambu berinsektisida secara massal, adanya dukungan dari pemerintah daerah setempat, lintas program dan lintas sektor terkait serta masyarakat dalam pendistribusian kelambu, terdistribusinya kelambu berinsektisida sampai ke masyarakat di daerah berisiko tinggi, meningkatnya pemahaman dan kemampuan petugas dalam pendistribusian kelambu berinsektisida secara massal kepada masyarakat,  serta meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam penggunaan dan pemeliharaan kelambu berinsektisida dengan baik dan benar.
4.    Penyemprotan vektor  malaria
Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi sumber penularan malaria didesa endemis dengan melakukan pemberantasan vektor penyakit malaria.
5.    Pelatihan Manajemen kasus malaria
Pelatihan Manajemen Tatalaksana Kasus Malaria adalah untuk menyediakan tenaga Paramedis Puskesmas dan Rumah Sakit terlatih di dalam penatalaksanaan kasus malaria yang sesuai dengan pedoman tatalaksana kasus malaria.
6.    Pelatihan Surveilans malaria
Dengan tujuan tersedianya tenaga pengelola malaria yang terlatih didalam kegiatan surveilans malaria, memahami tentang  cara pengolahan data, dapat melakukan pengolahan dan analisa data, peserta mengetahui sistem kewaspadaan dini penanggulangan KLB dan peserta dapat memahami langkah langkah penanggulangan KLB.
7.    Pelatihan pengambilan sedian darah  bagi petugas pustu di  wilayah kerja Puskesmas se-Kabupaten Tojo Una Una.
Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petugas Pustu dalam pengambilan sedian darah dan meningkatkan peran serta petugas pustu di desa dalam penanggulangan penyakit menular di masyarakat.

8.    Pelatihan tata laksana kasus
Pelatihan tata laksana kasus untuk tenaga dokter dengan tujuan tersedianya tenaga dokter puskesmas yang terlatih didalam penatalaksanaan kasus malaria yang sesuai dengan pedoman tatalaksana kasus malaria,
9.    Pelaksanaan pelatiham e-sismal
Dengan tujuan terjaminnya validasi data yang dapat memberikan informasi terkait pengendalian malaria yang bertujuan mancapai eliminasi malaria dengan terlatihnya tenaga yang terampil dalam E-Sismal dengan menyediapkan data yang valid dan tepat waktu mencakup tiga tahapan eliminasi malaria yaitu pre eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan.
10.  Pengobatan malaria dengan konfirmasi positif dari laboratorium seluruhnya dengan menggunakan ACT.
Adapun hasil kegiatan dari program malaria dapat di lihat dari angka AMI dan API kabupaten sebagai berikut:
Tabel 1.
Distribusi kasus malaria menurut API dan AMI di Kabupaten Tojo Una Una
tahun 2010-2012.
Tahun
Jml Kasus
Pemeriksaan Lab
Positif
AMI
API
ya
Tidak
n
%
n
%
2010
10266
3761
37
6502
63
1314
74 o/₀₀
10 o/₀₀
2011
11192
7767
69
3425
31
1468
80 o/₀₀
11 o/₀₀
2012
6350
5317
84
1033
16
545
70 o/₀₀
5 o/₀₀
Sumber : Data Sekunder
            Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat penurunan yang sangat signifikan pada tahun 2012.  Pada tahun 2012 terdapat penurunan kasus malaria hingga 43% dari kasus tahun 2011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program pemberantasan malaria berlangsung secara efektif.
Tabel 2.
Distribusi kasus malaria menurut API dan AMI di Kabupaten Tojo Una Una
Bulan Januari-Maret 2013.
Bulan
Jml Kasus
Pemeriksaan Lab
Positif
AMI
API
ya
Tidak
n
%
n
%
Jan
497
409
82
88
18
43
4 o/₀₀
0.3o/₀₀
Feb
413
321
78
92
22
29
 3o/₀₀
0.2o/₀₀
Mar
431
370
86
61
14
37
3 o/₀₀
0,3 o/₀₀
Sumber : Data Sekunder
Pada pelaksanaan program, walaupun hasil yang didapatkan sudah menunjukkan ke arah pencapaian tujuan pelaksanaan, namun dari informasi pengelola masih  terdapat kendala yang didapatkan di lapangan adalah sebagai berikut:
1.    Pencapaian target 80% pada Mass Blood Survey tidak pernah tercapai.
2.    Kegiatan Pos Maldes Tidak Aktif.
3.    Kasus klinis malaria tidak sepenuhnya berobat ke puskesmas sehingga menurunkan persentase pengobatan Malaria dengan ACT.
4.    Petugas mikroskopis jarang melaksanakan tugas, bahkan ada yang tugas belajar.
5.    Terbatasnya anggaran sehingga ada beberapa program yang tidak bisa dilaksanakan.


B.    ANALISIS SWOT PENCAPAIAN TOJO UNA UNA BEBAS PENULARAN MALARIA
Untuk lebih efektifnya program yang dilaksanakan dalam upaya pencapaian visi Touna bebas penularan malaria tahun 2015, maka perlu dilakukan percepatan program dan merumuskan strategi dengan memaksimalkan kekuatan (Srength) dan peluang (Opportunity), dan meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). 
1.    Kekuatan (Strength)
-          Tersedianya pelayanan kesehatan hingga tingkat desa (Pustu, poskesdes, desa siaga hingga rumah sakit.
-          Tersedianya tenaga kesehatan baik pengelola malaria, petugas mikroskopis di tiap puskesmas.
-          Tersedianya pembiayaan dari APBD dan Global Fund untuk menunjang program pemberantasan malaria.
-          Tersedianya pembiayaan pengobatan masyarakat secara keseluruhan dengan jamkesda.
-          Efektifitas pengobatan yang tinggi dengan program penggunaan obat ACT  untuk plasmodium yang resisten terhadap beberapa obat sebelumnya.
2.    Kelemahan  (Weakness)
-          Terdapat beberapa daerah yang sulit di jangkau oleh petugas kesehatan seperti daerah pertambangan tanpa izin di daerah dataran bulan.
-          Tingkat absensi petugas mikroskopis yang tinggi bahkan ada yang berstatus tugas belajar.
-          Keterbatasan anggaran sehingga ada beberapa program yang penting dalam upaya pemberantasan malaria tidak dilaksanakan seperti survey jentik dll.
-          Tidak semua yang terindikasi malaria klinis berobat ke puskesmas bahkan ada yang berusaha membeli obat sendiri.
-          Tidak aktifnya beberapa kegiatan yang diprogramkan seperti posmaldes, dan mass blood survey tidak mencapai target.


3.    Opportunity
-          Adanya komitmen dari Pemerintah daerah kabupaten Tojo una una dalam upaya mencapai eliminasi malaria.
-          Adanya dukungan global dengan pencanangan program malaria dalam MDGs.
-         Kebijakan pemerintah pusat dalam pemberian pembiayaan kesehatan masyarakat miskin melalui program jamkesmas.
-          Terbentuknya desa siaga.
4.    Threats
-          Terbatasnya akses masyarakat pada beberapa daerah untuk mencapai pelayanan kesehatan yang menyiapkan tenaga ahli (dokter) dan tenaga mikroskopis.
-          Rendahnya kemandirian, pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang malaria, baik pencegahan maupun pemberantasan malaria.
-          Koordinasi lintas program dan lintas sector yang masih lemah.

C.   KEBIJAKAN DAN STRATEGI
Berdasarkan hasil analisis SWOT dengan memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan ancaman untuk menurunkan angka kesakitan malaria klinis (AMI), dari 76 o/oo  penduduk pada tahun 2010  menjadi < 5 o/oo pada tahun 2015.  Menurunkan angka kesakitan malaria melalui hasil konfirmasi laboratorium (API) dari 10 o/₀₀ tahun 2010 menjadi <1 o/₀₀ tahun 2015, maka di  tempuh kebijakan berupa :
-          Meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan terutama tenaga dokter dan mikroskopis untuk mengurangi tingkat absensi.
-          Mengurangi hambatan financial dengan meningkatkan anggaran untuk program-program yang efektif serta meningkatkan logistik malaria di puskesmas.
-          Mengurangi penularan malaria terutama di daerah endemis tinggi dan mengurangi angka kematian dan kecacatan akibat malaria dengan pengobatan yang efektif.
-          Meningkatkan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang pentingnya upaya pencegahan dan pemberantasan malaria.
-          Memperkuat system koordinasi dan informasi lintas sektor dalam upaya pemberantasan malaria.
-          Meningkatkan upaya-upaya pencapaian indikator-indikator standar pelayanan minimum bidang kesehatan.

Strategi
Adapun strategi-strategi untuk mengurangi tingkat kesakitan hingga kematian akibat penyakit malaria dilakukan strategi sebagai berikut
1)    Pelaksanaan survey
a.    Survei breeding place dan resting place nyamuk malaria di masyarakat.
b.    Pelaksanaan kembali mass blood survey pada daerah endemis tinggi dalam upaya deteksi dini dan pengobatan segera penyakit malaria.
c.    Melaksanakan pemeriksaan darah terhadap penduduk radius 100 meter dari rumah penderita malaria yang terkonfirmasi secara laboratorium.
2)    Pemberantasan vector.
a.    Melakukan penyemprotan terhadap nyamuk dewasa pada radius 100 meter dari rumah kasus yang terkonfirmasi positif secara laboratorium.
b.    Pelaksanaan penyemprotan  pada daerah dengan KLB Malaria.
c.    Abatisasi pada tempat perindukan nyamuk.
d.    Menghindari kontak dengan nyamuk dewasa dengan pembagian kelambu berinsektisida terutama pada Bumil dan Balita di daerah endemisitas tinggi.
3)    Melaksanakan pengobatan yang efektif dengan meningkatkan cakupan penggunaan ACT hingga 80 %  pada penderita terkonfirmasi  positif dalam pemeriksaan laboratorium.
4)    Mendorong pemberdayaan masyarakat dalam upaya menciptakan masyarakat mandiri dan melakukan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang upaya pencegahan dan  pemberantasan penyakit malaria
a.    Revitalisasi pos malaria desa,
                                                                    i.    Melaksanakan pelatihan terhadap kader pos malaria desa.
                                                                  ii.    Memberikan insentif kepada kader pos malaria desa.
                                                                 iii.    Mengikutsertakan program pos malaria desa sebagai indicator penilaian dalam lomba desa.
b.    Melakukan promosi tentang upaya pemberantasan penyakit malaria di masyarakat.
c.    Melakukan pendidikan kesehatan tentang malaria di sekolah tingkat SD hingga SMA.
d.    Menyebarkan leaflet dan booklet tentang malaria ke masyarakat terutama daerah yang  dengan massa yang banyak.
5)    Membangun kemitraan yang efektif dengan kerja sama lintas program, lintas sector dan mitra lainnya utamanya lembaga masyarakat.
6)    Penguatan manajemen program malaria; system surveilans, monitoring dan evaluasi serta pembiayaan.
7)    Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja pengelola malaria dan petugas mikroskopis.



D.   Penutup
1.    Kegiatan pemberantasan Malaria di Kabupaten Tojo Una Una merupakan salah satu program unggulan dimana target pemberantasan malaria adalah “Tojo Una Una bebas penularan malaria tahun 2015” yang telah dicanangkan oleh Bupati Tojo Una Una pada tahun 2008. Diperlukan upaya yang keras untuk dapat mewujudkan tojo Una Una bebas penularan malaria tahun 2015.  Program ini sebagai dukungan daerah terhadap upaya global mencapai tujuan ke -6. MDGs.