STRATEGI PERCEPATAN
MENUJU “TOJO UNA UNA BEBAS MALARIA”
A. Analisis Situasi Malaria
Pemerintah Indonesia bersama-sama dengan 89
negara lain pada tahun 2000 berkumpul untuk menghadiri pertemuan puncak
millenium di New York dan menandatangani deklarasi millennium (MDGs) yang
menyatakan bahwa martabat manusia seutuhnya hanya dapat dipenuhi jika manusia
bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, serangan penyakit, sikap tidak
toleran dan konflik. Deklarasi ini
dijabarkan dalan 8 tujuan sedangkan pemberantasan penyakit malaria tertuang
dalam tujuan ke 6, mengendalikan HIV dan AIDS, Malaria dan penyakit menular
lainnya.
Tojo Una Una merupakan daerah endemis malaria
dimana angka kejadian malaria masih berada pada stratifikasi merah dengan
status High Incidense Area, faktor alam/lingkungan seperti pergantian musim
yang ekstrim, pembukaan lahan baru serta perilaku masyarakat mempunyai peran
besar pada proses terjadinya penyakit malaria, selain itu Keterbatasan tenaga
kesehatan terutama di tingkat Puskesmas, tidak dapat menjangkau semua penduduk
diwilayah kerjanya mengakibatkan cakupan penemuan masih rendah dan sering
terjadi KLB, belum dipahaminya tanda – tanda, cara pengobatan yang benar serta
bahaya malaria oleh sebagian masyarakat berakibat pada rendahnya kepedulian
masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya penanggulangan malaria. Dengan peningkatan
surveilans dalam rangka deteksi dini dan pengobatan tepat diharapkan dapat
menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria
Program Pengendalian Penyakit Malaria melalui
Dinas Kesehatan Kabupaten Tojo Una membuat suatu terobosan program yang
dicanangkan pada tahun 2008 yaitu ”Tojo Una Una Bebas Penularan Malaria
2015”. Program malaria merupakan program
prioritas Dinas Kesehatan Kabupaten Tojo Una Una, dengan indikator kunci
menurunkan angka kesakitan malaria klinis (AMI), dari 76 o/oo penduduk pada
tahun 2010
menjadi < 5 o/oo pada tahun
2015. Menurunkan angka kesakitan malaria
melalui hasil konfirmasi laboratorium (API) dari 10 o/₀₀ tahun 2010 menjadi <1 o/₀₀ tahun 2015.
Hasil kegiatan P2 Malaria memberikan gambaran
adanya kecenderungan peningkatan angka kesakitan malaria/ Annual Malaria
Incidence/AMI dari tahun 2010 hingga 2011, namun mengalami penurunan di tahun
2012. Kondisi awal tahun 2010 AMI 74 o/oo, dan API 10 o/oo, Puskesmas
yang melaksanakan konfirmasi laboratorium, 13 Puskesmas dari 13 puskemas ( 100
% ) tahun 2010. Kasus klinis Malaria yang dikonfirmasi laboratorium dari
kegiatan penemuan dan pengobatan penderita di Unit Pelayanan Kesehatan pada
tahun 2010 adalah 37 % (2010 ). Sedangkan kasus positif dari hasil konfirmasi
laboratorium sebanyak 1314 orang dari
3.761 orang kasus klinis atau 35 % (2010 ). Pada tahun 2010, dari 1314 kasus
malaria positif, terdapat 926 kasus plasmodium Falcifarum, 364 plasmodium vivax
dan mix sebanyak 24 kasus.
Dalam upaya mencapai visi ”Tojo
Una Una Bebas Penularan Malaria 2015”, maka perlu ditunjang olah adanya sumber
daya kesehatan yang profesional dan sarana, prasarana lainnya. Pada
kondisi tahun 2010 tenaga mikroskopis dan pengelola malaria terdapat satu orang
pada tiap-tiap puskesmas, sedangkan tenaga dokter masih belum terdistribusi
merata di seluruh puskesmas, puskesmas Lebiti, Puskesmas Pasokan, dan Puskesmas
tombiano tidak memiliki tenaga dokter. Sedangkan keberadaan sarana kesehatan
antara lain :
•
Rumah Sakit 1 Unit
•
Puskesmas Perawatan 5 Unit
•
Puskesmas Non Perawatan 8 Unit
•
Puskesmas Pembantu 43
Unit
•
Polindes / Poskesdes 46
Unit
•
Posyandu 172
Unit
•
POD 98
Unit
•
Desa Siaga 120
Unit
Dari laporan pengelola malaria hingga pertengahan tahun 2012, setelah
dilaksanakan kegiatan dengan pembiayaan dari DAU dan GF, antara lain sebagai
berikut : Kegiatan pemberantasan
malaria yang dibiayai oleh dana APBD pada tahun 2012 berjumlah Rp. 32.195.000,-
yang peruntukannya untuk kegiatan Penyemprotan Vektor Malaria, MBS (Mass Blood
Survey), dan Pelatihan Kader Pos Malaria Desa sedangkan kegiatan yang
dilaksanakan dengan biaya dari GF adalah
•
Supervisi
(6 Puskesmas) Pada P1 (Januri – Maret 2012) dan Supervisi (8 Puskesmas) Pada P
II ( April – Juni 2012)
•
Pembelian
ATK Tingkat Kabupaten Pada P1 (Januri – Maret 2012) dan P II ( April – Juni 2012)
•
Salary
and Wages Pada P1 (Januari –
Maret 2012) dan P II ( April – Juni 2012)
•
Insentif
Mikroskopis Puskesmas Pada
P1 (Januri – Maret 2012) dan P II ( April – Juni 2012)
•
Pendistribusian
kelambu Pada Ibu Hamil dan Balita Pada P II ( April – Juni 2012)
Hingga pertengahan 2012,
Penambahan sarana kesehatan penunjang pemberantasan malaria hanya pada
desa siaga sebanyak 1 desa, sedangkan
tidak ada penambahan tenaga mikroskopis maupun tenaga pengelola malaria di
puskesmas maupun rumah sakit. Distribusi
tenaga ahli (dokter) belum merata pada tiap puskesmas.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tojo
Una-Una adalah:
1. Skrining (Mass Blood Survey)
Tujuan dari skrining ini adalah untuk mengurangi sumber penularan malaria didesa
endemis tinggi yang merupakan lokasi sentinel ditiap kabupaten endemis tinggi
dengan cara penemuan penderita positif secara massal dan memberikan pengobatan
yang tepat. Target
untuk kegiatan Skrining Massal adalah Minimal 80% penduduk desa terpilih
diperiksa sediaan darah secara mikroskopis, pelaksanaan
skrining ini dilaksanakan di beberapa daerah endemis tinggi malaria.
2. POSMALDES
Kegiatan
posmaldes dengan tujuan dihasilkannya kader Pos Malaria Desa (POSMALDES) yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam
penanggulangan malaria serta menghasilkan masyarakat yang mandiri dan berperan
aktif dalamupaya penanggulangan dan pencegahan malaria.
3. Kampanye dan Pembagian kelambu berinsektisida
Dengan
kampanye dan pembagian kelambu berinsektisida diharapkan terselenggaranya kampanye pemakaian kelambu
berinsektisida secara massal, adanya
dukungan dari pemerintah daerah setempat, lintas program dan lintas sektor
terkait serta masyarakat dalam pendistribusian kelambu, terdistribusinya
kelambu berinsektisida sampai ke masyarakat di daerah berisiko tinggi, meningkatnya
pemahaman dan kemampuan petugas dalam pendistribusian kelambu berinsektisida
secara massal kepada masyarakat, serta meningkatnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam penggunaan dan pemeliharaan kelambu
berinsektisida dengan baik dan benar.
4. Penyemprotan vektor
malaria
Kegiatan ini bertujuan
untuk mengurangi sumber penularan malaria didesa endemis dengan melakukan pemberantasan vektor penyakit malaria.
5. Pelatihan Manajemen kasus malaria
Pelatihan
Manajemen Tatalaksana Kasus Malaria adalah untuk menyediakan tenaga Paramedis
Puskesmas dan Rumah Sakit terlatih di dalam penatalaksanaan kasus malaria yang
sesuai dengan pedoman tatalaksana kasus malaria.
6. Pelatihan Surveilans malaria
Dengan
tujuan tersedianya
tenaga pengelola malaria yang terlatih didalam kegiatan surveilans malaria, memahami
tentang cara pengolahan data, dapat melakukan pengolahan dan analisa data, peserta
mengetahui sistem kewaspadaan dini penanggulangan KLB dan peserta dapat
memahami langkah langkah penanggulangan KLB.
7. Pelatihan
pengambilan sedian darah bagi petugas
pustu di wilayah kerja Puskesmas se-Kabupaten Tojo Una Una.
Tujuan
dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan
petugas Pustu dalam pengambilan sedian darah dan meningkatkan peran serta petugas pustu di
desa dalam penanggulangan penyakit menular di masyarakat.
8. Pelatihan tata laksana kasus
Pelatihan tata laksana
kasus untuk tenaga dokter dengan tujuan tersedianya
tenaga dokter puskesmas yang terlatih didalam penatalaksanaan kasus malaria
yang sesuai dengan pedoman tatalaksana kasus malaria,
9. Pelaksanaan pelatiham e-sismal
Dengan
tujuan terjaminnya validasi data yang dapat memberikan
informasi terkait pengendalian malaria yang bertujuan mancapai eliminasi
malaria dengan terlatihnya
tenaga yang terampil dalam E-Sismal dengan menyediapkan data yang valid dan
tepat waktu mencakup tiga tahapan eliminasi malaria yaitu pre eliminasi,
eliminasi dan pemeliharaan.
10. Pengobatan malaria dengan konfirmasi positif dari
laboratorium seluruhnya dengan menggunakan ACT.
Adapun hasil kegiatan dari program malaria dapat di lihat
dari angka AMI dan API kabupaten sebagai berikut:
Tabel 1.
Distribusi kasus malaria menurut API dan AMI di Kabupaten
Tojo Una Una
tahun 2010-2012.
|
Tahun
|
Jml
Kasus
|
Pemeriksaan
Lab
|
Positif
|
AMI
|
API
|
|||
|
ya
|
Tidak
|
|||||||
|
n
|
%
|
n
|
%
|
|||||
|
2010
|
10266
|
3761
|
37
|
6502
|
63
|
1314
|
74 o/₀₀
|
10 o/₀₀
|
|
2011
|
11192
|
7767
|
69
|
3425
|
31
|
1468
|
80 o/₀₀
|
11 o/₀₀
|
|
2012
|
6350
|
5317
|
84
|
1033
|
16
|
545
|
70 o/₀₀
|
5 o/₀₀
|
Sumber : Data Sekunder
Dari tabel di atas dapat dilihat
bahwa terdapat penurunan yang sangat signifikan pada tahun 2012. Pada tahun 2012 terdapat penurunan kasus
malaria hingga 43% dari kasus tahun 2011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pelaksanaan program pemberantasan malaria berlangsung secara efektif.
Tabel 2.
Distribusi kasus malaria
menurut API dan AMI di Kabupaten Tojo Una Una
Bulan Januari-Maret
2013.
|
Bulan
|
Jml
Kasus
|
Pemeriksaan
Lab
|
Positif
|
AMI
|
API
|
|||
|
ya
|
Tidak
|
|||||||
|
n
|
%
|
n
|
%
|
|||||
|
Jan
|
497
|
409
|
82
|
88
|
18
|
43
|
4 o/₀₀
|
0.3o/₀₀
|
|
Feb
|
413
|
321
|
78
|
92
|
22
|
29
|
3o/₀₀
|
0.2o/₀₀
|
|
Mar
|
431
|
370
|
86
|
61
|
14
|
37
|
3 o/₀₀
|
0,3 o/₀₀
|
Sumber : Data Sekunder
Pada
pelaksanaan program, walaupun hasil yang didapatkan sudah menunjukkan ke arah pencapaian tujuan pelaksanaan, namun dari
informasi pengelola masih terdapat
kendala yang didapatkan di lapangan adalah sebagai berikut:
1. Pencapaian
target 80% pada Mass Blood Survey tidak pernah tercapai.
2. Kegiatan
Pos Maldes Tidak Aktif.
3. Kasus
klinis malaria tidak sepenuhnya berobat ke puskesmas sehingga menurunkan
persentase pengobatan Malaria dengan ACT.
4. Petugas
mikroskopis jarang melaksanakan tugas, bahkan ada yang tugas belajar.
5. Terbatasnya
anggaran sehingga ada beberapa program yang tidak bisa dilaksanakan.
B. ANALISIS SWOT PENCAPAIAN TOJO UNA UNA BEBAS
PENULARAN MALARIA
Untuk lebih efektifnya program yang dilaksanakan dalam upaya
pencapaian visi Touna bebas penularan malaria tahun 2015, maka perlu dilakukan percepatan
program dan merumuskan strategi dengan memaksimalkan kekuatan (Srength) dan
peluang (Opportunity), dan meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman
(Threats).
1. Kekuatan (Strength)
-
Tersedianya
pelayanan kesehatan hingga tingkat desa (Pustu, poskesdes, desa siaga hingga
rumah sakit.
-
Tersedianya
tenaga kesehatan baik pengelola malaria, petugas mikroskopis di tiap puskesmas.
-
Tersedianya
pembiayaan dari APBD dan Global Fund untuk menunjang program pemberantasan
malaria.
-
Tersedianya
pembiayaan pengobatan masyarakat secara keseluruhan dengan jamkesda.
-
Efektifitas
pengobatan yang tinggi dengan program penggunaan obat ACT untuk plasmodium yang resisten terhadap
beberapa obat sebelumnya.
2. Kelemahan
(Weakness)
-
Terdapat
beberapa daerah yang sulit di jangkau oleh petugas kesehatan seperti daerah
pertambangan tanpa izin di daerah
dataran bulan.
-
Tingkat
absensi petugas mikroskopis yang tinggi bahkan ada yang berstatus tugas
belajar.
-
Keterbatasan
anggaran sehingga ada beberapa program yang penting dalam upaya pemberantasan
malaria tidak dilaksanakan seperti survey jentik dll.
-
Tidak semua
yang terindikasi malaria klinis berobat ke puskesmas bahkan ada yang berusaha
membeli obat sendiri.
-
Tidak
aktifnya beberapa kegiatan yang diprogramkan seperti posmaldes, dan mass blood
survey tidak mencapai target.
3. Opportunity
-
Adanya
komitmen dari Pemerintah daerah kabupaten Tojo una una dalam upaya mencapai
eliminasi malaria.
-
Adanya dukungan global dengan pencanangan program malaria dalam MDGs.
- Kebijakan
pemerintah pusat dalam pemberian pembiayaan kesehatan masyarakat miskin melalui
program jamkesmas.
-
Terbentuknya
desa siaga.
4. Threats
-
Terbatasnya
akses masyarakat pada beberapa daerah untuk mencapai pelayanan kesehatan yang
menyiapkan tenaga ahli (dokter) dan tenaga mikroskopis.
-
Rendahnya
kemandirian, pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang malaria, baik
pencegahan maupun pemberantasan malaria.
-
Koordinasi
lintas program dan lintas sector yang masih lemah.
C. KEBIJAKAN DAN STRATEGI
Berdasarkan
hasil analisis SWOT dengan memaksimalkan kekuatan dan peluang serta
meminimalkan kelemahan dan ancaman untuk menurunkan angka kesakitan malaria
klinis (AMI), dari 76 o/oo penduduk pada tahun 2010
menjadi < 5 o/oo pada tahun
2015. Menurunkan angka kesakitan malaria
melalui hasil konfirmasi laboratorium (API) dari 10 o/₀₀ tahun 2010 menjadi <1 o/₀₀ tahun 2015, maka di tempuh kebijakan berupa :
-
Meningkatkan
ketersediaan tenaga kesehatan terutama tenaga dokter dan mikroskopis untuk
mengurangi tingkat absensi.
-
Mengurangi
hambatan financial dengan meningkatkan anggaran untuk program-program yang efektif serta meningkatkan logistik malaria di puskesmas.
-
Mengurangi
penularan malaria terutama di daerah endemis tinggi dan mengurangi angka
kematian dan kecacatan akibat malaria dengan pengobatan yang efektif.
-
Meningkatkan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang pentingnya upaya pencegahan dan
pemberantasan malaria.
-
Memperkuat
system koordinasi dan informasi lintas sektor
dalam upaya pemberantasan malaria.
-
Meningkatkan
upaya-upaya pencapaian indikator-indikator
standar pelayanan minimum bidang kesehatan.
Strategi
Adapun
strategi-strategi untuk mengurangi tingkat kesakitan hingga kematian akibat
penyakit malaria dilakukan strategi sebagai berikut
1) Pelaksanaan survey
a. Survei breeding place dan resting place nyamuk
malaria di masyarakat.
b. Pelaksanaan kembali mass blood survey pada
daerah endemis tinggi dalam upaya deteksi dini dan pengobatan segera penyakit
malaria.
c. Melaksanakan pemeriksaan darah terhadap
penduduk radius 100 meter dari rumah penderita malaria yang terkonfirmasi
secara laboratorium.
2) Pemberantasan vector.
a. Melakukan penyemprotan terhadap nyamuk dewasa
pada radius 100 meter dari rumah kasus yang terkonfirmasi positif secara
laboratorium.
b. Pelaksanaan penyemprotan pada daerah dengan KLB Malaria.
c. Abatisasi pada tempat perindukan nyamuk.
d. Menghindari kontak dengan nyamuk dewasa dengan
pembagian kelambu berinsektisida terutama pada Bumil dan Balita di daerah
endemisitas tinggi.
3) Melaksanakan pengobatan yang efektif dengan
meningkatkan cakupan penggunaan ACT hingga 80 % pada
penderita terkonfirmasi positif dalam
pemeriksaan laboratorium.
4) Mendorong pemberdayaan masyarakat dalam upaya
menciptakan masyarakat mandiri dan melakukan pendidikan kesehatan untuk
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit malaria
a. Revitalisasi pos malaria desa,
i. Melaksanakan pelatihan terhadap kader pos
malaria desa.
ii. Memberikan insentif kepada kader pos malaria
desa.
iii. Mengikutsertakan program pos malaria desa
sebagai indicator penilaian dalam lomba desa.
b. Melakukan promosi tentang upaya pemberantasan
penyakit malaria di masyarakat.
c. Melakukan pendidikan kesehatan tentang malaria
di sekolah tingkat SD hingga SMA.
d. Menyebarkan leaflet dan booklet tentang
malaria ke masyarakat terutama daerah yang
dengan massa yang banyak.
5) Membangun kemitraan yang efektif dengan kerja
sama lintas program, lintas sector dan mitra lainnya utamanya lembaga
masyarakat.
6) Penguatan manajemen program malaria; system
surveilans, monitoring dan evaluasi serta pembiayaan.
7) Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja
pengelola malaria dan petugas mikroskopis.
D. Penutup
1. Kegiatan pemberantasan Malaria di Kabupaten Tojo Una Una
merupakan salah satu program unggulan dimana target pemberantasan malaria
adalah “Tojo Una Una bebas penularan malaria tahun 2015” yang telah dicanangkan
oleh Bupati Tojo Una Una pada tahun 2008. Diperlukan
upaya yang keras untuk dapat mewujudkan tojo Una Una bebas penularan malaria
tahun 2015. Program ini sebagai dukungan
daerah terhadap upaya global mencapai tujuan ke -6. MDGs.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar