A. PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan
basil Mycobacterium tuberculosis dan
menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia
ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan
tuberkulosis sebagai ‘Global Emergency’.
Sepertiga penduduk dunia telah
terinfeksi kuman tuberkulosis
dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia Tenggara
yaitu 33% dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah
penduduk terdapat 182 kasus per 100.000
penduduk2.
Di Indonesia, TB menduduki
peringkat ke-3 dengan prevalensi tertinggi di dunia setelah Cina dan
India. Kematian oleh karena TB ini terutama terjadi di
negara-negara berkembang. Di
Indonesia TB menduduki peringkat ke-3 sebagai penyebab
kematian.
Di Amerika
Serikat (AS) sejak ditemukan
dan kemudian berkembangnya obat
anti tuberkulosis (OAT) yang cukup efektif, TB dapat ditekan jumlahnya. Akan
tetapi sejak tahun 1989-1992 timbul kembali peningkatan penyakit ini, yang
dikaitkan dengan peningkatan epidemi HIV/AIDS,
urbanisasi dan migrasi
akibat resesi melanda
dunia. Bersamaan dengan peningkatan penyakit ini timbul masalah baru
yaitu TB dengan resistensi ganda (Multidrug Resistant Tuberculosis / MDR TB).
“WHO Report on
Tuberculosis Epidemic 1995” menyatakan
bahwa resistensi ganda kini menyebar dengan sangat cepat di berbagai
belahan dunia.
Tuberkulosis (Tb) merupakan
penyebab terbesar penyakit dan kematian di dunia khususnya di Asia dan Afrika
dan sejak tahun 2005 terdapat peningkatan yang disebabkan oleh pertumbuhan
populasi di India, Cina, Indonesia, Afrika Selatan dan Nigeria. Menurut WHO
prevalens kasus TB tahun 2006 ada 14,4 juta kasus dan multidrug resistant Tb
(MDR Tb) ada 0,5 juta kasus dengan Tb kasus baru MDR 23.353 kasus. Jumlah total
kasus Tb baru MDR yang diobati tahun 2007 dan 2008 sekitar 50.000 kasus.
Prevalens Tb di Indonesia tahun 2006 adalah 253/100.000 penduduk angka kematian
38/100.000 penduduk. Tb kasus baru didapatkan MDR Tb 2% dan Tb kasus yang telah
diobati didapatkan MDR Tb 19%.
Timbulnya
resistensi obat dalam terapi Tb khususnya MDR Tb merupakan masalah besar
kesehatan masyarakat di berbagai negara dan fenomena MDR menjadi salah satu
batu sandungan program pengendalian Tb. Pengobatan pasien MDR Tb lebih sulit,
mahal, banyak efek samping dan angka kesembuhannya relatif rendah. Penyebaran
resistensi obat di berbagai negara tidak diketahui dan tatalaksana pasien MDR
Tb masih tidak adekuat.
Bakteri penyebab TB menjadi resisten ketika
penderita TB tidak mendapatkan atau tidak menjalani pengobatan lengkap.
Resistensi obat TB, seperti drug
sensitive TB juga dapat menular melalui udara dari penderita kepada bukan
penderita. MDR-TB merupakan bentuk TB yang tidak merespon terhadap standar 6
bulan pengobatan yang menggunakan
obat standard atau first-line (resisten terhadap isoniazid dan
rifampicin) Dibutuhkan waktu 2 tahun untuk diobati dengan obat yang 100 kali
lebih mahal dibandingkan pengobatan dengan obat standard (first-line).
XDR-TB merupakan salah satu bentuk TB yang
disebabkan oleh bakteri yang resistan terhadap hampir semua obat anti TB yang
efektif (misalnya MDR-TB plus resistan terhadap fluoroquinolones dan segala
bentuk pengobatan lain (second-line) anti TB injeksi: amikacin, kanamycin atau
capreomycin).
Di sub
Sahara Afrika, HIV/AIDS secara dramatis memicu penyebaran TB. TB adalah
penyebab utama kematian penderita HIV. MDR-TB dan XDR-TB sangat mematikan bagi
penderita HIV – penelitian menunjukkan CFR di atas 90%. Oleh karena itu, Drug-resistant TB merupakan ancaman utama
terhadap keefektifan program pengobatan TB maupun anti-retroviral.
B.
TINJAUAN TENTANG MDR TB
a.
DEFINISI
Resistensi ganda adalah M.
tucerkulosis yang resisten minimal terhadap rifampisin dan INH dengan atau
tanpa OAT lainnya. Rifampisin dan INH merupakan 2 obat yang sangat penting pada
pengobatan TB yang diterapkan pada strategi DOTS. Secara umum resitensi
terhadap obat anti tuberkulosis dibagi menjadi :
1. Resistensi primer ialah apabila pasien
sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan
OAT kurang dari 1 bulan
2. Resistensi initial ialah apabila kita
tidak tahu pasti apakah pasien sudah ada riwayat pengobatan OAT sebelumnya atau
belum pernah.
3. Resistensi sekunder ialah apabila pasien
telah mempunyai riwayat pengobatan OAT minimal 1 bulan.
b.
Kategori TB-MDR
Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB :
1.
Mono-resistance: kekebalan terhadap salah satu OAT
2.
Poly-resistance: kekebalan terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid
dan rifampisin.
3.
Multidrug-resistance (MDR) : kekebalan terhadap sekurang-kurangnya
isoniazid dan rifampicin.
4. Extensive
drug-resistance (XDR) : TB-
MDR ditambah kekebalan terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon,
dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin,
dan amikasin)
Klasifikasi
Kasus TB
Sesuai
dengan pedoman penanggulangan TB Nasional dibagi menjadi
1.
Kasus
kronik; Pasien TB dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai
pengobatan ulang (kategori 2). Hal ini ditunjang dengan rekam medis sebelumnya
dan atau riwayat penyakit dahulu.
2.
Kasus gagal pengobatan; Pasien TB yang hasil
pemeriksaan dahaknya positif atau kembali positif pada bulan kelima atau lebih
selama pengobatan
3.
Kasus kambuh (relaps). Pasien TB yang
sebelumnya pernah mendapatkan pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (dahak atau kultur)
4.
Kasus gagal Pasien TB yang hasil pemeriksaan
dahaknya tetap positif atau kembali positif atau kembali menjadi positif pada
bulan kelima atau lebih selama pengobatan
Suspek TB-MDR
Pasien yang dicurigai kemungkinan TB-MDR adalah :
1. Kasus TB paru kronik
2. Pasien TB paru gagal pengobatan kategori 2
3. Pasien TB yang pernah diobati TB termasuk OAT lini kedua seperti
kuinolon dan kanamisin
4. Pasien TB paru yang gagal pengobatan kategori 1
5. Pasien TB paru dengan hasil pemeriksaan dahak tetap positif
setelah sisipan dengan kategori 1
6. TB paru kasus kambuh
7. Pasien TB yang kembali setelah lalai/default pada pengobatan
kategori 1 dan atau kategori 2
8. Suspek TB dengan keluhan, yang tinggal dekat dengan pasien
TB-MDR konfirmasi, termasuk petugas kesehatan yang bertugas dibangsal TB-MDR
Pasien yang memenuhi ‘kriteria suspek’ harus dirujuk secara ke
laboratorium dengan jaminan mutu eksternal yang ditunjuk untuk pemeriksaan
biakan dan uji kepekaan obat.
c. Mekanisme
Multidrug resistant tuberculosis (MDR Tb) adalah Tb yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (M. Tb) resisten in vitro terhadap isoniazid (H) dan rifampisin (R) dengan atau tanpa resisten obat lainnya. Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru dan kasus telah diobati sebelumnya. Kasus baru resisten obat Tb yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien baru didiagnosis Tb dan sebelumnya tidak pernah diobati obat antituberkulosis (OAT) atau durasi terapi kurang 1 bulan. Pasien ini terinfeksi galur M. Tb yang telah resisten obat disebut dengan resistensi primer. Kasus resisten OAT yang telah diobati sebelumnya yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien selama mendapatkan terapi Tb sedikitnya 1 bulan. Kasus ini awalnya terinfeksi galur M Tb yang masih sensitif obat tetapi selama perjalanan terapi timbul resistensi obat atau disebut dengan resistensi sekunder (acquired).
Multidrug resistant tuberculosis (MDR Tb) adalah Tb yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (M. Tb) resisten in vitro terhadap isoniazid (H) dan rifampisin (R) dengan atau tanpa resisten obat lainnya. Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru dan kasus telah diobati sebelumnya. Kasus baru resisten obat Tb yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien baru didiagnosis Tb dan sebelumnya tidak pernah diobati obat antituberkulosis (OAT) atau durasi terapi kurang 1 bulan. Pasien ini terinfeksi galur M. Tb yang telah resisten obat disebut dengan resistensi primer. Kasus resisten OAT yang telah diobati sebelumnya yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien selama mendapatkan terapi Tb sedikitnya 1 bulan. Kasus ini awalnya terinfeksi galur M Tb yang masih sensitif obat tetapi selama perjalanan terapi timbul resistensi obat atau disebut dengan resistensi sekunder (acquired).
Secara
mikrobiologi resistensi disebabkan oleh mutasi genetik dan hal ini membuat obat
tidak efektif melawan basil mutan. Mutasi terjadi spontan dan berdiri sendiri
menghasilkan resistensi OAT. Sewaktu terapi OAT diberikan galur M. Tb wild type
tidak terpajan. Diantara populasi M. Tb wild type ditemukan sebagian kecil
mutasi resisten OAT. Resisten lebih 1 OAT jarang disebabkan genetik dan
biasanya merupakan hasil penggunaan obat yang tidak adekuat. Sebelum penggunaan
OAT sebaiknya dipastikan M. Tb sensitif terhadap OAT yang akan diberikan.
Sewaktu penggunaan OAT sebelumnya individu telah terinfeksi dalam jumlah besar
populasi M. Tb berisi organisms resisten obat. Populasi galur M. Tb resisten mutan
dalam jumlah kecil dapat dengan mudah diobati. Terapi Tb yang tidak adekuat
menyebabkan proliferasi dan meningkatkan populasi galur resisten obat.
Kemoterapi jangka pendek pasien resistensi obat menyebabkan galur lebih
resisten terhadap obat yang digunakan atau sebagai efek penguat resistensi.
Penularan galur resisten obat pada populasi juga merupakan sumber kasus
resistensi obat baru. Meningkatnya koinfeksi Tb HIV menyebabkan progresi awal
infeksi MDR Tb menjadi penyakit dan peningkatan penularan MDR Tb.
d. Faktor
Penyebab
Banyak
faktor penyebab MDR TB. Beberapa
analisis difokuskan pada ketidakpatuhan pasien. Ketidakpatuhan lebih berhubungan
dengan hambatan pengobatan seperti kurangnya pelayanan diagnostik, obat,
transportasi, logistik dan biaya pengendalian program Tb.
Survei global resistensi OAT
mendapatkan hubungan antara terjadinya MDR Tb dengan kegagalan program Tb
nasional yang sesuai petunjuk program Tb WHO. Terdapatnya MDR Tb dalam suatu
komuniti akan menyebar. Kasus tidak diobati dapat menginfeksi lebih selusin
penduduk setiap tahunnya dan akan terjadi epidemic khususnya di dalam suatu
institusi tertutup padat seperti penjara, barak militer dan rumah sakit.
Penting sekali ditekankan bahwa MDR Tb merupakan ancaman baru dan hal ini
merupakan man made phenomenon.
Pengendalian sistematik dan
efektif pengobatan Tb yang sensitive melalui DOTS merupakan senjata terbaik
untuk melawan berkembangnya resistensi obat. Terdapat 5 sumber utama resisten
obat Tb menurut kontribusi Spigots, yaitu:
1. Pengobatan tidak lengkap dan
adekuat menyebabkan mutasi M. Tb resistensi.
2. Lamanya pasien menderita
infeksi disebabkan oleh keterlambatan diagnosis MDR Tb dan hilangnya efektiviti
terapi sehingga terjadi penularan galur resisten obat terhadap kontak yang
masih sensitif.
3. Pasien resisten obat Tb dengan
kemoterapi jangka pendek memiliki angka kesembuhan kecil dan hilangnya efek terapi
epidemiologi penularan.
4. Pasien resisten obat Tb dengan
kemoterapi jangka pendek akan mendapatkan resistensi lanjut disebabkan ketidak
hati—hatian pemberian monoterapi (efek penguat).
5. Koinfeksi HIV dapat
memperpendek periode infeksi menjadi penyakit Tb dan penyebab pendeknya masa
infeksi.
Faktor-faktor yang lain sebagai berikut
Faktor Mikrobiologik
-
Resisten yang natural
-
Resisten yang didapat
-
Ampli
fier effect
-
Virulensi kuman
-
Tertular galur kuman -MDR
Faktor
Klinik
-
Penyelenggara kesehatan
- Keterlambatan diagnosis
- Pengobatan tidak mengikuti guideline
- Penggunaan paduan OAT yang tidak adekuat
yaitu karena jenis obatnya yang kurang atau karena lingkungan tersebut telah
terdapat resitensi yang tinggi terhadap OAT yang digunakan misal rifampisin atau
INH
- Tidak ada guideline
- Tidak ada / kurangnya pelatihan TB
- Tidak ada pemantauan pengobatan
- Fenomena addition syndrome yaitu
suatu obat yang ditambahkan pada satu paduan yang telah gagal. Bila kegagalan
ini terjadi karena kuman tuberkulosis telah resisten pada paduan yang pertama
maka ”penambahan” 1 jenis obat tersebut akan menambah panjang daftar obat yang
resisten.
- Organisasi program nasional TB yang kurang
baik
Faktor
Obat
- Pengobatan TB jangka waktunya lama lebih
dari 6 bulan sehingga membosankan pasien.
- Obat toksik menyebabkan efek samping
sehingga pengobatan kompllit atau sampai selesai gagal.
- Obat tidak dapat diserap dengan baik
misal rifampisin diminum setelah makan, atau ada diare.
- Kualitas obat kurang baik misal penggunaan
obat kombinasi dosis tetap yang mana bioavibiliti rifampisinnya berkurang
- Regimen / dosis obat yang tidak tepat
- Harga obat yang tidak terjangkau
- Pengadaan obat terputus
Faktor
Pasien
-
PMO idak ada / kurang baik
-
Kurangnya informasi atau penyuluhan
-
Kurang dana untuk obat, pemeriksaan penunjang
dll
-
Sarana dan prasarana transportasi sulit / tidak
ada
-
Masalah
sosial
-
Gangguan penyerapan obat
Faktor Program
-
Tidak ada fasiliti untuk biakan dan uji
kepekaan
-
Tidak ada program DOTS-PLU
-
Memerlukan biaya yang besar
e.
Diagnosis
Langkah awal mendiagnosis resisten obat Tb adalah mengenal pasien dalam risiko dan mempercepat dilakukannya diagnosis laboratorium. Deteksi awal MDR Tb dan memulai sejak awal terapi merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan terapi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi sputum BTA, uji kultur M. Tb dan resistensi obat. Kemungkinan resistensi obat Tb secara simultan dipertimbangkan dengan pemeriksaan sputum BTA sewaktu menjalani paduan terapi awal. Kegagalan terapi dapat dipertimbangkan sebagai kemungkinan resisten obat Tb sampai ada hasil uji resistensi obat beberapa minggu kemudian yang menunjukkan terdapatnya paduan terapi yang tidak adekuat. Identifikasi cepat pasien resistensi obat Tb dilakukan terutama pasien memiliki risiko tinggi karena program pengendalian Tb lebih sering menggunakan paduan terapi empiris, minimalisasi penularan, efek samping OAT, memberikan terapi terbaik dan mencegah resistensi obat lanjut.
Langkah awal mendiagnosis resisten obat Tb adalah mengenal pasien dalam risiko dan mempercepat dilakukannya diagnosis laboratorium. Deteksi awal MDR Tb dan memulai sejak awal terapi merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan terapi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi sputum BTA, uji kultur M. Tb dan resistensi obat. Kemungkinan resistensi obat Tb secara simultan dipertimbangkan dengan pemeriksaan sputum BTA sewaktu menjalani paduan terapi awal. Kegagalan terapi dapat dipertimbangkan sebagai kemungkinan resisten obat Tb sampai ada hasil uji resistensi obat beberapa minggu kemudian yang menunjukkan terdapatnya paduan terapi yang tidak adekuat. Identifikasi cepat pasien resistensi obat Tb dilakukan terutama pasien memiliki risiko tinggi karena program pengendalian Tb lebih sering menggunakan paduan terapi empiris, minimalisasi penularan, efek samping OAT, memberikan terapi terbaik dan mencegah resistensi obat lanjut.
Prediksi seseorang dalam risiko
untuk melakukan uji resistensi obat adalah langkah awal deteksi resistensi
obat. Prediktor terpenting resistensi obat adalah riwayat terapi Tb sebelumnya,
progresiviti klinis dan radiologi selama terapi Tb, berasal dari daerah
insidens tinggi resisten obat dan terpajan individu infeksi resisten obat Tb.
Setelah pasien dicurigai MDR Tb harus dilakukan pemeriksaan uji kultur M. Tb
dan resistensi obat. Laboratorium harus mengikuti protokol jaminan kualiti dan
memiliki akreditasi nasional / internasional. Khususnya 2 sampel dengan hasil
yang berbeda dari laboratorium dengan tingkat yang berbeda direkomendasikan
untuk diperiksakan pada laboratorium yang lebih balk. Penting sekali laboratorium menekankan pemeriksaan uji resistensi obat
yang cepat, adekuat, valid dan mudah dicapai oleh pasien dan layanan kesehatan.
Mewujudkan laboratorium seperti ini disuatu daerah merupakan tantangan untuk
program pengendalian Tb.
f.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan TB resistensi
ganda ini memerlukan seorang spesialis yang ahli dibidangnya. Tiga hal penting
dan perlu diperhatikan pada penatalaksanaan TB resistensi ganda adalah teknik
diagnostik, pemberian obat, dan kepatuhan. Dengan pemilihan panduan obat yang
tepat maka diharapkan separuh penderita TB resistensi ganda ini akan sembuh dan
bisa diselamatkan kemungkinan terjadinya kompilkasi dan kematian.
Untuk dapat
menyusun panduan yang
tepat bagi setiap penderita diperlukan beberapa
informasi mengenai hasil tes resistensi kuman tuberkulosis, riwayat pengobatan
dan pola resistensi kuman di lingkungan masyarakat penderita menetap. Bila data
resistensi baru tidak ada maka data resistensi lama dapat dipakai apabila belum
ada OAT yang dipakai penderita setelah tes resistensi dilakukan atau OAT yang
dipakai setelah tes resistensi tersebut memang terbukti terdiri dari paduan
obat yang masif sensitif. Bila tidak didapat tiga obat yang sensitif maka OAT yang dipilih adalah yang belum pernah
dipakai penderita dan menurut data resistensi di mana penderita bertempat
tinggal jarang yang resisten.
Untuk pemilihan obat lini
kedua disarankan berdasarkan aktivitas intrinsik obat terhadap M.tuberculosis
dan efikasinya terhadap klinis. Durasi terapi ditentukan berdasarkan setiap
individu, tetapi secara umum, sebaiknya diberikan minimal 18 bulan setelah
konversi sputum. Menurut kerentanan obat-obat M.tuberclosis pada saat awal,
penarikan obat satu atau
lebih bisa saja
dilakukan selama terapi
tanpa memperkirakan akibatnya nanti, tetapi obat bakteriostatik dan yang
tidak mempunyai efek bakterisid sebaiknya diperpanjang, jika efek samping tidak dapat ditolerir yang
menjadi alasan mengapa regimen tersebut direvisi.
g.
Prognosis
Ada beberapa hal yang dapat
menjadi petanda untuk mengetahui prognosis pada penderita TB resistensi
ganda. Dari beberapa studi yang ada
menyebutkan bahwa adanya keterlibatan ekstrapulmoner, usia tua, malnutrisi, infeksi
HIV, riwayat menggunakan OAT dengan jumlah yang cukup banyak sebelumnnya,
terapi yang tidak adekuat (< 2 macam obat yang aktif)
dapat menjadi petanda
prognosis buruk pada
penderita tersebut.
Dengan mengetahui beberapa
petanda di atas dapat membantu klinisi untuk mengamati penderita lebih seksama
dan dapat memperbaiki hal yang menjadi penyebab seperti malnutrisi.
C.
MDR TB di Indonesia
Pada Global Report WHO 2010, didapat data TB Indonesia,
Total seluruh kasus TB tahun 2009 sebanyak 294731 kasus, dimana 169213 adalah
kasus TB baru BTA positif, 108616 adalah kasus TB BTA negatif, 11215 adalah
kasus TB Extra Paru, 3709 adalah kasus TB Kambuh, dan 1978 adalah kasus
pengobatan ulang diluar kasus kambuh (retreatment, excl relaps).
Di Indonesia, pernah dilaporkan di
Rumah Sakit Dr.Rotinsulu Bandung tahun 2005, terdapat 28,2% resisten
rifampycin dan isonoazid;17,8% resisten rifampycicn-isoniazid-ethambutol
(R-H-E); 13,8% resisten ryfampicin-isoniazid-ethambuol-pyrazinamid (RH-E-Z);
10,3% resisten
ryfampicin-isoniazid-ethambutol-pyrazinamidstreptomycin(R-H-E-Z-S).
Sementara di Medan, Tanjung A dan Keliat E.N melaporkan (1994) pola
resistensi primer terhadap
gabungan 2 macam obat H-E (10,34%), S-E (3,45%), E-R (17,2%); dan
gabungan 3 macam obat yaitu masing-masing S-H-E dan S-E-R berkisar 3,45%.
Sedangkan gabungan 2 macam obat (S-H,
S-R, R-H), 3 macam obat (HE-R dan S-H-R) serta 4 macam obat lainnya (R-H-E-S)
masih sensitif.
Laporan MDR TB dari Indonesia yang diterima oleh WHO sejak tahun
2002, hanya satu kabupaten yaitu Mimika
Papua, sedangkan untuk daerah lainnya
tidak tersedia data yang valid. Hal ini menebabkan indonesia termasuk dalam
kasus Hidden atau terembunyi padahal indonesia adalah daerah yang sangat
potensial dengan beban yang tinggi karena berada di posisi ke tiga jumlah
penderita TB di dunia.
Salah satu penyebab kasus MDR-TB di indonesia belum diketahui
karena tidak adanya survei yang dilaksanakan dan mahalnya alat laboratorium
untuk mendiagnosa penyakit tersebut.
D.
Global Health MDR-TB
Istilah MDR TBC pertama kali dikembangkan
oleh US Centers for Disease Control dan Pencegahan (CDC) 20, Maret, 2005. Pada bulan Oktober, 2005, diperkenalkan
keranah publik pada Konferensi Dunia ke-36 Uni Kesehatan Paru di Paris, France.
6 bulan kemudian, Maret,
2006, CDC Morbiditas and Mortality Weekly Report menerbitkan defenisi asli TB MDR.
2006, CDC Morbiditas and Mortality Weekly Report menerbitkan defenisi asli TB MDR.
Mayoritas pasien yang menderita dari multi-resistan terhadap obat
TB tidak menerima pengobatan, karena mereka cenderung tinggal di negara-negara
terbelakang atau dalam keadaan kemiskinan. Penolakan pengobatan tetap pada manusia yang sulit menerima informasi, serta karena tingginya biaya obat-obat lini
kedua yang sering menghalangi orang tidak mampu membayar terapi.
Para pasien miskin yang menderita multi-resistan terhadap obat TB
menghadapi masalah tidak dapat menerima perawatan yang tepat. Ketidakadilan ini
berkaitan dengan isu hak asasi manusia. Perawatan dan pengobatan untuk penyakit
infeksi kronis hanya dapat diakses untuk orang yang mampu membelinya, sedangkan
yang lain, seperti mereka yang tinggal di negara-negara miskin, tidak memiliki
akses ke perawatan ini. Sebagai contoh, daerah-daerah seperti Afrika dan Haiti,
di mana tidak ada fondasi yang kuat untuk kesehatan, pengobatan tidak tersedia.
Sebagai akibatnya, hanya sebagian kecil orang yang menderita dapat diobati dan
mendapatkan perawatan secara layak. Selain itu, setelah pecahnya Uni Soviet,
negara-negara seperti Moldova mengalami kehancuran pada sistem pelayanan
kesehatan, dan tidak dapat menghentikan
penyebaran meningkatnya TB-MDR.
Kejadian MDR-TB ini paling
banyak di temui di daerah eropa dan Asia.
Negara yang memiliki angka kejadian yang tinggi adalah Di India dan China yang memberikan kotribusi sampai dengan 50% dari
total MDR-TB global, diikuti oleh
Rusia(10%) dengan
proporsi 23,8-28,7%. MDR-TB dari kasus
TB baru. Selanjutnya negara Tajikistan
dengan proporsi 16.5% MDR-TB dari kasus TB baru dan 61,6% dari kasus TB lama.
Adanya epidemi MDR-TB mendapatkan respon secara global, mei 2009
WHA mendesak negara anggotanya untuk dapat memberikan akses secara universal untuk
diagnosis dan pengobatan MDR-TB. Namun penanganan MDR-TB terlalu lambat. Dari
perkiraan 440.000 Kasus MDR TB, hanya 7% yang dilaporkan dan dari 7% yang
dilaporkan hanya sekitar 12% yang mendapatkan perlakuan sesuai dengan standar
WHO. Biaya pengobatan MDR-TB lebih besar
50 sampai dengan 200 kali lebih besar dibanding dengan TB tanpa MDR dengan
kegagalan pengobatan dan kematian lebih tinggi. Hal ini memberi beban berat terhadap negara
dengan kasus yang tinggi utamanya untuk negara miskin dan berkembang.
Negara-negara dengan MDR tinggi dengan 4000 atau lebih kasus
baru tiap tahun antara lain Armenia, Azerbaijan, Bangladesh, Belarus, Bulgaria,
China, Indonesia, Kongo, Estonia, Ethophia, Georgia, India, Kazakhtan,
Kyrgystan, Latvia, Lithunia, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Filipina, Repoblik
Mordova, Rusia, Afrika Selatan, Tajikistan, Ukraina, Uzbekistan, dan
Vietnam.
Pemeriksaan MDR-TB secara rutin hanya dilaksanakan di 42 negara (22%)
dari negara seluruh dunia, 72 (37%) Negara bergantung pada survei secara
periodikdan sisanya 79 (41%) negara belum pernah dilaksanakan survei resistensi
obat ini. Hambatan ini disebabkan karena akses untuk mendapatkan kapasitas
laboratorium untuk pengujian resistensi obat tidak tersedia.
Untuk negara-negara maju seperti singapura, AS, Estonia,
Hongkong, kejadian MDR-TB menurun secara drastis seiring dengan menurunnya
angka TB secara keseluruhan, Di negara lain seperti Lithuania, kejadian MDR-TB
menurun lebih lambat dari kasus TB tanpa resistensi, Di negara seperti Peru,
Kasus TB menurun dan kasus TB dengan MDR-TB meningkat, yang paling ironi pada
Korea selatan dan Bostwana dimana semua kasus TB meningkat insidennnya, Kasus
MDR-TB meningkat sangat cepat. Hal ini mungki juga dipengaruhi oleh kasus HIV/AIDS.
Negara-negara lain yang belum pernah melaksanakan survei seperti
Afrika, tidak diperoleh data MDR-TB sehingga kasusnya tersembunyi dan tidak
mendapatkan penanganan sesuai dengan standar WHO.
Secara global total biaya pengendalian diestimasikan
sebesar US $ 16.200.000.000, namun
sampai saat ini sumber dana secara global hanya diambil dari Global Fund sebagai
usaha untuk mengsukseskan Millenium development Goals perang terhadap HIV/AIDS,
TB dan Malaria. Dana ini dapat menjadi
sumber external negara dengan beban MDR-TB yang tinggi dan memiliki sumberdaya
yang terbatas untuk pengobatan dan penanggulangan. Negara maju dengan
pendapatan yang tinggi mampu mengalokasikan dana yang cukup untuk pengobatan
dan perawatan sehingga MDR-TB di daerah tersebut dapat segera ditanggulangi.
Mahalnya biaya pengobatan dan perawatan MDR-TB serta sarana dan
prasarana penunjang diagnostik menjadi beban sendiri bagi negara dengan miskin
termasuk negara berkembang, sehingga dunia perlu bertanggungjawab secara
bersama-sama dalam upaya pemberantasan TB secara global. Resolusi WHA mendesak negara-negara untuk
mencapai akses universal terhadap diagnosis dan pengobatan MDR-TB. Termasuk dengan memperkuat sistem survailans untuk
memastikan penemuan dan pemantauan epidemiologi MDR-TB.
E.
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Beban MDR-TB Global telah meningkat tajam namun masalah ini
telah menjadi tanggung jawab global, Pengendalian ini dapat dilakukan dengan
kerjasama secara global, bantuan kepada negara miskin dan berkembanng terutama
untuk peralatan dan alat penunjang diagnostik.
Resistensi Obat terhadap TB sangat menghalangi upaya kontrol
TB. Keadaan ini meningkatkan kemungkinan
kembali ke era dimana obat tidak lagi efektf.
b.
Saran.
-
Pemerintah
agar melaksanakan sistem surveilans nasional berkelanjutan sehingga setiap
negara mampu mengukur besarnya kejadian MDR-TB yang telah menjadi epidemi dan
memantau efektifitas pencegahan karena keberadaan data dapat mengakurasi
perkiraan epidemi global, analisis kebutuhan dalam membangun sistem resolusi
dunia.
-
Kerja
sama Global untuk pengendalian MDR-TB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar